Rumah yang kami tempati cukup besar untuk menampung sebelas orang. Pekarangan yang luas cukup untuk menampung empat buah mobil minibus. Satu buah garasi disebelah kanan jika tampak dari depan dengan pintu terbuat dari kayu yang bisa dilipat kesamping. Bagian dalam rumah terdiri dari sebuah ruang yang cukup luas untuk memuat lima puluh orang jika saja bangku yang ada di sebelah kanan yang terdiri dari empat buah bangku pendek dan satu buah bangku panjang dipindahkan ke bagian luar rumah.
Dua kamar tidur melengkapi rumah ini. Satu kamar tidur terletak diabgian belakang rumah. Jika memandang kebagian luar jendela tampak pekarangan luar rumah yang dibentengi sebuah tembok. Sementara disamping tembok tumbuh semak-semak,kebun singkong dan tanaman pisang milik warga. Satu buah kamar lagi terkunci rapat yang tidak berani kami buka atas penjelasan dari Pak Ponijam. Satu buah kamar mandi tidak memiliki bak tandon air apa lagi mesin pompa yang terhubung kesumur, sehingga kami harus terseok-seok mengambil air dari bak persegi terbuat dari semen dibuat kusus untuk menampung air hujan. Dari dalam bak tampak jelas beberapa ikan lele yang sengaja dimasukkan untuk menghilangkan kutu-kutu air yang muncul. Permukaan air yang jernih memberikan panorama berbeda saat jentik-jentik nyamuk menari-nari kegirangan merayakan kemerdekaan saat sebentar lagi akan menjadi musuh utama manusia kelak, nyamuk.
“Dika, nomor rumahnya 23. Sama kayak nomor unit kita ya.” kata Wika saat melihat bagian pentilasi rumah dari luar.
Entah bagaimana bisa rumah ini memiliki nomor yang sama dengan nomor kelompok kami. Dika yang tidak percaya mencoba untuk keluar dari dalam ruangan melihat apa yang Wika lihat di luar. “Kok bisa pas ya Wik?” tanya Dika heran.
Sementara Wika dan Dika sibuk membersihkan bagian luar rumah, Aku dan Arif kebagian kerja mengambil air didalam bak bagian belakang rumah. Semua orang sibuk mengerjakan tugasnya masing-masing. Selly dan Dwisty membersihkan kamar bagian belakang. O o dan Bayu membersihkan bagian ruang tamu. Widia dan Lina membersihkan bagian ruang yang berada di depan kamar tertutup itu.
Bayu mengguyur satu ember air ke lantai ruang tamu. Dengan cekatan dia mulai menyapu lantai yang terbilas oleh air dengan sapu lidi di tangan kanannya. Dia ayunkan sapu itu ke bagian-demi bagian lantai hingga bersih dari debu dan pasir yang menempel.
Diantara kami Bayulah yang paling tinggi. Kepalanya yang botak memberikan kesan seram disertai suara yang lantang khas anak Sumatera. Bayu berasal dari Medan. Diantara kami dia adalah seorang laki-laki yang kami andalkan untuk melakukan apapun. Saat mengangkat barang-barang seperti tikar, galon, tas, dari rumah Lina ke desa, tanpa rasa lelah Bayu memindahkan itu semua ke kendaraan kami. Saat ada keganjilan dirumah ini, kami juga berharap kepada dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar