Sabtu, 20 Juni 2015

Review Novel Sastra, Andrea Hirata: Ayah-Sebuah Novel


Judul Buku-Ayah-Sebuah Novel
Penulis-Andrea Hirata
ISBN-978-602291-102-9
Penerbit-Penerbit Bentang
Tanggal Terbit-Mei 2015
Harga-Rp 74.000
Tebal-396 Halaman
                       
Sabari dibuat gila oleh Istrinya, Lena, anak dari tokeh batu bata itu. Bagaimana tidak, capek-capek Sabari membesarkan anak semata wayangnya, hari itu harus diambil lari oleh Lena sampai ke negeri seberang. Sabari yang berteman dengan Ukun dan Tamat sedikit beruntung, kedua temannya tersebut menaruh iba hingga berniat membantu mencarikan Zorro yang dibawa lari oleh lena. Apakah Ukun dan Tamat akan bertemu dengan Zorro dan Lena? Ataukah harus pulang dengan tangan kosong?

Kabar gembira bagi pecinta novel sastra karya Andrea Hirata. Belum lama ini sosok yang akrab di panggil Pak Cik oleh para penggemarnya meluncurkan novel terbarunya barjudul Ayah-Sebuah Novel. Mungkin beberapa penggemar sedikit terkecoh dengan novel terbarunya. Buku terbaru ini tidaklah menceriktakan sosok Ayah Lintang, tokoh dalam Laskar Pelangi. Melainkan menceritakan sesuatu yang benar-banar baru. Akan tetapi latar tempat tetap di daerah Andrea berasal, Belitong.
Mengorek isi buku ini menjadi sesuatu yang menarik. Dari sampul depan dan belakang buku tampak menarik dan bagus sekali. Rasa sastra yang akan dinikmati dalam isi buku ini tergambar dari sampul halaman buku. Menilik kedalam beberapa lembar halaman berisi tanggapan para tokoh kepenulisan yang berkomentar. Semakin memberi kesan wah buku ini, para tokoh tersebut kebanyakan dari luar negeri dan komentar berbahasa inggris tentunya.
Berbicara mengenai isi, tentu saja yang disajikan adalah karya sastra dari yang empunya buku. Namun sedikit berbeda dari buku-buku Pak Cik sebelumnya, buku baru ini menggunakan bahasa yang imajinatif, jika boleh aku membahasakan. Hal ini karena saat membaca kita akan terbayang dengan film laskar pelangi sehingga dengan membaca buku ini seperti menonton film adaptasi novel Andrea Hirata dengan cerita yang berbeda.
Beberapa bagian cerita yang terdiri lebih dari 50 judul bab begitu menggelitik perut, ceritanya lucu sekali. Kata yang digunakan sangat kaya hingga untuk memahami-bagi yang belum mengerti bahasa melayu-harus didampingi kamus besar bahasa Indonesia, jika diperlukan.
Dibagian belakang beberapa halaman berisi gambar karya-karya buku Andrea Hirata. Beberapa buku yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa asing juga ikut dibubuhkan di bagian halaman terakhir.

Buku ini sangat menghibur sekali. Buku ini juga dapat menjadi referensi untuk bersastra melayu ala Andrea Hirata. Saya jamin Anda tidak akan menyesal menikmati buku ini. Satu kata: belilah yang asli, bukan bajakan.

Review Buku Cerita Remaja, Raditya Dika: Koala Kumal



Judul Buku - Koala Kumal
Penulis - Raditya Dika
ISBN - 978-979-780-769-6
Penerbit - Gagas Media
Tanggal Terbit - 2015
Harga - 
Tebal - 247 Halaman

Raditya Dika, seorang penulis, sutradara, sekaligus stand up comedy baru-baru ini meluncurkan buku terbarunya yang berjudul Koala Kumal. Pria yang menjadi icon remaja saat ini melanjutkan cerita kesehariannya melalui buku terbarunya.
Buku bersampul warna hijau ini memiliki cerita yang random atau artinya tidak berurutan. Cerita pendek yang terangkum dalam sub judulnya berisi mengenai pengalaman Radit membuat beberapa film-filmnya. 
Sosok Dika dalam serial pendek Malam Minggu Miko ini, di dalam bukunya juga meneritakan bagaimana memunculkan sosok Mas Anca yang berperan sebagai pembantu dalam serial tersebut.
Buku ini mengandung beberapa komedi yang membuat pembaca tertawa. Beberapa bagian cerita dibuat detail untuk menguatkan cerita didalamnya. Belum ada berita apakah buku terbarunya ini akan di filmkan atau tidak.
Kta tentu familiar dengan buku-buku karya Raditya Dika dengan judul yang menggunakan nama-nama hewan. Kita tunggu karya-karya Radit selanjutnya.

Minggu, 14 Juni 2015

Meet and Greet Andrea Hirata




Bertempat di toko buku Togamas Kotabaru, Yogyakarta, 14 Juni 2015 pukul 16.00,   perhelatan Meet and Greet Andrea Hirata berjalan dengan meriah. Acara dibuka dengan penampilan Mbak Meda yang membawakan beberapa buah lagu diiringi oleh Neno dan Dika Chasmala yang bermain biola dan gitar. 

Sang penulis novel Ayah, Andrea Hirata, banyak bercerita mengenai novel barunya. Andrea Hirata menuturkan terlambatnya novel ini terbit lantaran terfokus dengan novel Laskar Pelangi yang akan diterbitkan ke dalam 34 bahasa. Selain itu novel baru ini terinspirasi dari true story bukan berdasarkan true story.

“Saya tidak bisa mengatakan based on true story, tapi inspired by true story”, Ucap Andrea Hirata saat menjawab pertanyaan salah satu peserta.
Andrea Hirata menjawab pertanyaan dari peserta

Di saat-saat akhir acara, penampilan memukau Dendi dan Paula yang merupakan anak didik dari Andrea Hirata yang langsung datang dari Belitong dengan permainan gitarnya. Acara ditutup dengan sebuah lagu dari sound track Laskar Pelangi. 

Acara dilanjutkan dengan sesi tanda tangan buku novel Ayah. Berikut dokumentasi yang berhasil penulis jepret di tempat acara.

Suasana Saat Registrasi Peserta

Performance Meda and Band





Rabu, 03 Juni 2015

1.3

Rumah yang kami tempati cukup besar untuk menampung sebelas orang. Pekarangan yang luas cukup untuk menampung empat buah mobil minibus. Satu buah garasi disebelah kanan jika tampak dari depan dengan pintu terbuat dari kayu yang bisa dilipat kesamping. Bagian dalam rumah terdiri dari sebuah ruang yang cukup luas untuk memuat lima puluh orang jika saja bangku yang ada di sebelah kanan yang terdiri dari empat buah bangku pendek dan satu buah bangku panjang dipindahkan ke bagian luar rumah.
Dua kamar tidur melengkapi rumah ini. Satu kamar tidur terletak diabgian belakang rumah. Jika memandang kebagian luar jendela tampak pekarangan luar rumah yang dibentengi sebuah tembok. Sementara disamping tembok tumbuh semak-semak,kebun singkong dan tanaman pisang milik warga. Satu buah kamar lagi terkunci rapat yang tidak berani kami buka atas penjelasan dari Pak Ponijam. Satu buah kamar mandi tidak memiliki bak tandon air apa lagi mesin pompa yang terhubung kesumur, sehingga kami harus terseok-seok mengambil air dari bak persegi terbuat dari semen dibuat kusus untuk menampung air hujan. Dari dalam bak tampak jelas beberapa ikan lele yang sengaja dimasukkan untuk menghilangkan kutu-kutu air yang muncul. Permukaan air yang jernih memberikan panorama berbeda saat jentik-jentik nyamuk menari-nari kegirangan merayakan kemerdekaan saat sebentar lagi akan menjadi musuh utama manusia kelak, nyamuk.
“Dika, nomor rumahnya 23. Sama kayak nomor unit kita ya.” kata Wika saat melihat bagian pentilasi rumah dari luar.
Entah bagaimana bisa rumah ini memiliki nomor yang sama dengan nomor kelompok kami. Dika yang tidak percaya mencoba untuk keluar dari dalam ruangan melihat apa yang Wika lihat di luar. “Kok bisa pas ya Wik?” tanya Dika heran.
Sementara Wika dan Dika sibuk membersihkan bagian luar rumah, Aku dan Arif kebagian kerja mengambil air didalam bak bagian belakang rumah. Semua orang sibuk mengerjakan tugasnya masing-masing. Selly dan Dwisty membersihkan kamar bagian belakang. O o dan Bayu membersihkan bagian ruang tamu. Widia dan Lina membersihkan bagian ruang yang berada di depan kamar tertutup itu. 
Bayu mengguyur satu ember air ke lantai ruang tamu. Dengan cekatan dia mulai menyapu lantai yang terbilas oleh air dengan sapu lidi di tangan kanannya. Dia ayunkan sapu itu ke bagian-demi bagian lantai hingga bersih dari debu dan pasir yang menempel.
Diantara kami Bayulah yang paling tinggi. Kepalanya yang botak memberikan kesan seram disertai suara yang lantang khas anak Sumatera. Bayu berasal dari Medan. Diantara kami dia adalah seorang laki-laki yang kami andalkan untuk melakukan apapun. Saat mengangkat barang-barang seperti tikar, galon, tas, dari rumah Lina ke desa, tanpa rasa lelah Bayu memindahkan itu semua ke kendaraan kami. Saat ada keganjilan dirumah ini, kami juga berharap kepada dia.

Senin, 01 Juni 2015

1.2

Sebuah gulungan tikar berdiri di pojokan ruang tamu. Lina membawa tikar dari kontrakannya untuk alas tidur kami. Rumah ini tidak memiliki kasur yang bisa kami gunakan untuk tidur. Jadi kami akali dengan membawa tikar dan bantal seadanya yang kami pinjam semua ke Lina. Butuh waktu dan kerja keras untuk merayu Lina supaya membawa semua perabotan tidurnya untuk kami pakai. Begitulah kami para mahasiswa yang masih ngekos, sementara lina memiliki rumah sendiri dengan perabotan yang lengkap.
Arman mengambil tikar tersebut dan membentangkannya bersama Bayu hingga menutupi separuh dari ruang tamu rumah ini. Sebentar lagi ruangan ini akan ramai dengan kami berkumpul. Malam ini kami akan mengadakan rapat untuk membuat schedule program yang akan kami lakukan di desa ini.
Dari kejauhan aku memandang sebuah kamar yang tertutup sangat rapat. Aku masih teringat dengan kata Pak Ponijam yang mengantarkan kami ke rumah ini. “Mas, Mbak, kamar ini jangan dipakai ya. Biarkan saja ketutup” begitulah kata Pak Ponijam saudara dari pemilik rumah ini yang diamanahkan untuk menjaga rumah. Pak ponijam juga menuturkan bahwa pemilik rumah sedang pergi ke Lampung untuk menjenguk anaknya. Dia pegi sejak tiga bulan yang lalu dan belum tahu kapan pulangnya.
Aku sangat penasaran apa isi dibalik kamar ini. Pikiran ku mulai tidak karuan. Imajinasikupun melayang membayangkan kamar yang dihuni oleh makhluk kasat mata. Pikiran ku menggambarkan tentang sebuah kamar yang tidak boleh dimasuki oleh siapapun karena ruang tersebut adalah sebuah tempat dimana makhluk-makhluk gaib berada. Mereka akan mengganggu setiap manusia yang menempati rumah tersebut. Hanya ada dua pilihan bagi sang penghuni rumah yaitu pindah dari rumah tersebut atau mati dengan penyebab yang ganjil. Begitulah beberapa film horor yang pernah aku tonton.
Aku sendiri tidak menyukai film horor. Pernah suatu hari temanku mengajak nonton film disebuah bioskop, namanya ihsan. Karena gengsi aku iyakan saja ajakan ihsan. Kami nonton berlima. Aku duduk disamping ihsan sementara dua orang lainnya berada di samping ku dan satu orang berada disamping ihsan. Sampai dengan adegan saat hantu itu mulai mau keluar diiingi dengan suara khas sebuah film horor aku mulai menutup mataku dengan kedua tangan. Bagitu seterusnya disetiap adegan yang sama. Aku hanya menikmati film itu saat adegan dialog dan itu saat siang hari.
Aku melirik jam tangan yang dipakai Andika yang berada di samping ku. Waktu menunjukkan jam setangah tujuh. Rombongan cewek yang sedang uring-uringan di ruangan tepat di depan kamar tertutup itu bergegas ke ruang tamu. Kami akan memulai rapat kecil ini.
Rapat berlangsung lima belas menit. Hanya pembahasan ringan seputar jadwal masing-masing dari kami yang akan melaksanakan program KKN yang sudah dibuat. Rpat juga membahas mengenai program yang bisa dikolaborasi sehingga kami bisa melaksanakan secara bersama dalam satu tempat dan satu waktu.
“Mas Yan, O o, sama Mas Bayu, jam 7.30 ke rumah Mas Pur ya. Dirumahnya ada acara tiga harian orangtuanya yang meninggal kemarin.” Kata Andika memberitahu.
“Oo, orang tuanya ya yang meninggal kemarin!” kata O o.
“Siap pak Bos.” Jawab Bayu bersemangat.

**
Bendera putih tergantung di ujung sebuah bambu yang memancang di atas tanah. Bambu ini berdiri tegak tepat disamping sebuah jalan setapak disamping pos ronda depan sebuah rumah. Ada seseorang yang meninggal hari ini.
“Pak ada yang meninggal ya?” Selly mencoba bertanya kepada Pak Ponijam.
“Iya Mbak, orangtuanya Mas Mul meninggal dunia karena sakit tua. Umurnya sudah 66 tahun.” Jawab Pak Ponijam dengan ramah.
Kami berdiri di samping sebuah pos kamling yang terlihat tidak terawat. Pos kamling itu kotor dan berdebu menandakan lamanya warga tidak memakai pos kamling ini. Dibelakang pos kamling, berdiri sebuah rumah yang tertutup rapat dengan pekarangan yang cukup luas. Rumah Mas Mol tepat beberapa meter di belakang rumah ini.
“Mas, Mbak, ini rumahnya yang akan ditempati nanti.”
 Mendengar Pak Ponijam mangatakan rumah tertutup itu adalah rumah yang akan kami tempati sebagai posko sontak Dwisti kaget. Dwisti menampakkan mukanya yang ketakutan karena rumah ini bersebelahan rumah dengan yang baru meninggal. “Beneran ini Pak posko kami nanti?”,tanya Dwisti yang meragukan perkataan Pak Ponijam. Didalam hati Dwisti mengharapkan kalau Pak Ponijam hanya bercanda saja. “Iya Bener Mbak” Jawab Pak Ponijam menekankan.
Berbeda dengan Dwisti, kami tidak merasakan ketakutan sedikitpun melihat rumah itu. Kami bersyukur mendapatkan rumah dengan pekarangan yang luas dan ada garasi untuk mengamankan kendaraan yang kami bawa. Kami juga sempat berpikir untuk membawa mobil milik Lina. Tapi Bayu mengingatkan jika kami membawa mobil, kami terkesan sebagai anak gedongan sehingga ditakutkan warg akan meminta yang macam-macam. Ini adalah pikiran negatif kami yang banyak mendengar berita dari orang-orang yang sudah pernah melakukan Kuliah kerja Nyata. Sementara kami adalah anak-anak perantauan yang menghabiskan duit orang tua untuk belajar.
Pak Ponijam hanya mengantarkan kami sampai depan rumah. Setelah memberikan kunci rumah, dia langsung berpamitan karena harus menyelesaikan pekerjaannya di kebun. Kami memasuki rumah itu, rumah yang akan menjadi posko kami nantinanti, rumah yang mengawali cerita kami.