Minggu, 31 Mei 2015

1.1

Kami berhenti di sebuah pom bensin yang berdiri di perempatan jalan. Andika yang sedari tadi berkeluh kesah karena bahan bakar motornya yang hampir habis, langsung memasuki area pom bensin menuju salah seorang petugas pengisi bensin. Sementara itu, kami yang bersepuluh berdiri disisi sudut area pom bensin menunggu dengan sabar.
“Masih lama Rif desanya?” Tanya Widya dengan tangan yang sedang mengkondisikan tas punggunya yang tampak berat sehingga kedodoran.
“Sabar, sebentar lagi kita sampai. Tinggal empat kilo lagi ke utara.” Jawab Arif untuk menangkan Widya yang juga tampak kelelahan karena kelamaan duduk di motor.
Kami dalam perjalanan menuju sebuah desa yang terletak di kaki Gunung Merapi. Hanya Arif, Bayu, dan Andika yang beberapa hari lalu sudah mencari letak desa ini. Namanya desa Talun. Desa dimana kami akan melakukan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Sejak letusan Gunung Merapi tahun 2010 banyak desa-desa di kaki Gunung Merapi lulu lantak diterjang awan panas yang meluncur dari puncak gunung. Warga di kaki gunung sering menyebutnya Wedus Gembel. Selain menghancurkan desa, peristiwa ini juga merenggut nyawa beberapa warga yang masih tinggal dirumah saat luncuran awan panas mengalir dari atas gunung ke pemukiman warga. Peristiwa ini juga mengakhiri hidup seorang juru kunci merapi yang setia, Mbah Marijan.
Kami membayangkan desa yang akan kami tempati nanti adalah desa yang ikut terkena dampak awan panas letusan Gunung Merapi. Banyak rumah-rumah yang hancur berantakan dan pohon-pohon yang tampak sekarat sehingga tampak batang dan ranting-ranting saja tanpa dedaunan.
Kami tergabung dalam unit Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari kampus. Dampak merapi yang belum pulih total memerlukan uluran tangan total dari segala elemen, termasuk kampus kami. KKN yang kami ikuti saat ini memiliki misi untuk mengembalikan perekonomian desa terdampak dan melakukan pendampingan kepada warga desa yang menjadi korban. KKN kali ini bernama KKN Peduli Merapi.
Kami melanjutkan perjalanan menuju utara atau lebih tepatnya menuju arah Gunung Merapi yang berdiri kokoh di bumi Indonesia. Kiri dan kanan jalan tampak pemandangan hamparan sawah yang cukup luas dan beberapa blok tanah yang ditanami dengan tembakau. Tampaknya daerah ini tidak tekena dampak letusan secara langsung. Meskipun begitu daerah ini juga terkena dampak perekonomian karena sayuran yang tumbuh dikaki gunung habis terpanggang oleh abu vulkanik gunung.
Kami mengikuti Arif yang berada di paling depan rombongan. Baru satu minggu yang lalu aku mengenal Arif dalam pertemuan unit. Dari semua laki-laki di unit kami, Arif yang paling pendek. Sebenarnya tidak hanya Arif, Selly memiliki tinggi yang sama dengan Arif. Walaupun begitu mereka berdua berbeda jenis kelamin. Arif tampak lucu mengendarai motor Suzuki Satria F yang memboncengi Oo yang tampak lebih tinggi darinya.
Dalam pertemuan unit, masing-masing kami saling mengenalkan diri masing-masing. Kelompok kami berjumlah sebelas orang, terdiri dari 6 orang laki-laki dan lima orang perempuan. Kelompok KKN kali ini lebih banyak dari yang biasanya hanya delapan orang. 
Dalam pertemuan itu juga kami memilih ketua unit. Dalam sebuah kelompok harus memiliki ketua yang mengatur dan menjadi mandataris sebuah kelompok. Bahkan ketua kelompok juga bisa menjadi benteng atas kesalahan anak buahnya. Ketua kelompok kami bernama Andika. Laki-laki berperawakan sedang dan berkulit putih dengan bahasa Jawa yang medok kami pilih secara demokrasi. Andika juga memenuhi kriteria yang sangat diperlukan untuk mengahadapi warga desa yang kesehariannya berbahasa Jawa. Kriteria komunikasi yang baik dengan menggunakan bahasa jawa yang halus.
Kami melewati jalan aspal yang mulai terkelupas hingga tampak bongkahan batu yang membuat orang melintasinya harus berhati-hati. Daerah ini berbeda dengan daerah yang kami lalui sebelumnya yang tampak terang dengan hamparan sawah yang menyejukkan mata. Saat ini kami melewati daerah yang ditumbuhi oleh bambu-bambu yang menjulur keatas. Kami tetap melewati jalan yang berlubang ini hingga beberapa ratus meter kemudian.
Aku teringat dengan kejadian yang menimpaku saat melewati serumpun bamboo yang berdiri disamping jalan dekat rumahku. Saat itu aku sedang berjalan berdua dengan seorang teman. Tiba-tiba saja bulu kudukku berdiri sehingga secepat kilat aku berlari sekencang-kencangnya meninggalkan temanku dibelakang.
Di depan ku tampak Lina dan Widya yang berboncengan terlihat kesulitan melewati jalan ini. Sesekali ban sepeda motor yang dikendarai Lina masuk ke beberapa lubang jalan hingga hampir terjatuh.
“Dik, masih jauh ya balai desanya?” Tanya Lina yang tidak sabar untuk segera sampai di tujuan akhir kami, Balai Desa Talun.
“lima menit lagi kita sampai. Kelompok lain sudah berangkat Mas Yan.” Tanya Dika kepadaku.
“Kayaknya sudah beberapa kelompok Dik yang datang.” Jawabku.
Ada lima unit kelompok KKN yang ditempatkan di desa Talun. Mereka adalah unit KKN 20 sampai dengan Unit KKN 25. Aku dan kesepuluh rekan kelompokku tergabung dalam kelompok KKN Unit 23. Penempatan lima kelompok dalam satu desa menandakan bahwa desa ini cukup luas.
Beberapa menit kemudian kami tiba di balai desa. Dari dalam bangunan sederhana itu terdengar suara pembawa acara yang tengah mengkondisikan warga agar duduk di kursi yang sudah disiapkan. Kami memasuki ruangan dan duduk di bangku yang sudah disiapkan sedemikan rupa untuk kami. Penduduk disini sangat ramah dalam menyambut tamu. Tampak sekali raut wajah ceria saat acara peresmian KKN berlangsung. Acara ini berlangsung dengan hikmat dengan dibukanya kegiatan KKN di desa talun oleh Pak X dan dihadiri oleh beberapa perangkat desa dan ketua Pemuda setempat.

Rabu, 27 Mei 2015

Review Buku Inspirasi Berpolitik, Riswandi: Berani beda & Istimewa - Inspirasi Segar Ala Jokowi, Risma, dan Ahok

Judul Buku - Berani beda & Istimewa - Inspirasi Segar Ala Jokowi, Risma, dan Ahok
Penulis - Riswandi
ISBN - 978-602-7902-38-1
Penerbit - Kamea Pustaka
Tanggal Terbit - April 2014
Harga -
Tebal - 208 Halaman

Siapa yang tidak kenal sekarang ini dengan 3 sosok, Risma, Jokowi, dan Ahok. Risma adalah seorang walikota Surabaya, Jokowi adalah seorang gubernur Jakarta yang sekarang sudah menjadi Presiden Indonesia, dan Ahok adalah wakil gubernur Jakarta yang sekarang sudah menjadi Gubernur Jakarta menggantikan Jokowi.

Dalam buku ini Riswandi selaku Penulis cukup mengagumi ketiga tokoh ini. Memang mereka saat ini seperti menjadi tokoh panutan yang patut dicontoh. Dalam buku setebal 208 halaman ini penulis memaparkan beberapa program kerja mereka selaku pengelola sebuah wilayah negara yang berhasil dikerjakan.

Buku berwarna kuning ini memiliki bahasa yang mudah dimengerti dan dicerna bagi pembacanya. Cerita kehidupan dari ketiga tokoh ini digambarkan cukup jelas dan dapat menjadi pembelajaran bagi pembaca. Menurut saya buku ini sangat cocok dibaca untuk saat mengisi waktu luang Anda.

Review Buku Horor, Risa Saraswati: Gerbang Dialog Danur




Judul Buku - Gerbang Dialog Danur
Penulis - Risa Saraswati
ISBN - 602-220-150-0
Penerbit - Bukune
Tanggal Terbit - April 2015
Harga - Rp 50.000
Tebal - 223 Halaman

Secara garis besar buku ini menceritakan tentang hubungan antara Risa dan hantu-hantu yang berada disekitarnya. Ya, para hantu-hantu yang bisa ia lihat sejak kecil. Bagi Risa kemampuan ini awalnya menjadi hal yang menakutkan, namun seiring waktu kemampuan ini menuntunnya untuk berteman dengan beberapa hantu-hantu anak kecil Belanda yang tinggal dirumah neneknya.

Selain menjadi kakak bagi hantu-hantu kecil di rumahnya, Risa juga menjadi tempat berkeluh kesah bagi hantu-hantu lainnya yang bertemu dengannya di berbagai tempat berbeda. Banyak hal yang diutarakan oleh para hantu mengenai hal kematian sampai keinginan untuk bertemu dengan orang yang dicintai.

Risa Saraswati dengan sangat apik menceritakan sebuah cerita horor namun mengandung makna pembelajaran bagi yang masih hidup. Dari segi penulisan dia menyampaikan dengan lugas dan tidak bertele-tele. Beberapa kalimat menjadi nasehat bagi para pembaca buku ini.

Buku setebal 223 halaman ini menurut saya sangat cocok sekali untuk dibaca. Buku ini tidak begitu terlalu menakutkan untuk dibaca melainkan menjadi pembelajaran bagi manusia hidup dari manusia yang sudah mati.



Jumat, 01 Mei 2015

Review Buku Penggugah Semangat, Billy Boen: Young on Top (35 Kunci Sukses di Usia Muda)


Judul buku - Young on Top (35 Kunci Sukses di Usia Muda)
Penulis - Billy Boen
ISBN - 978-602-8864-67-1
Penerbit - Penerbit B First
Tanggal Terbit - 
Harga -
Tebal - 208 halaman

Mungkin masih banyak yang belum tahu penulis buku, motivator, dan sekaligus pendiri young on Top Indonesia, dialah Billy Boen. Melalui bukunya Young on Top, Billy mencoba membuka wawasan pembaca untuk mencoba memahami dan menerapkan 35 kunci sukses di usia muda.

Menurut saya buku yang telah beberapa kali naik cetak ini baik sekali untuk Anda baca. Untuk Anda yang masih tergolong muda, sehingga disebut pemuda atau pemudi, Billy mencoba menerapkan kata-kata maupun kalimat-kalimat yang memotivasi untuk Anda para pembaca muda. Beberapa contoh dan cerita yang disajikan dapat membuka pikiran kita terhadap sesuatu hal yang penting.

Salah satu cerita yang disajikan dalam buku ini adalah bagaimana Billy mengubah hidupnya untuk lebih sehat setelah mendapat saran dari seorang temannya. Hingga ia pun merubah pola hidupnya untuk lebih sehat dengan berolahraga. Sepertinya olahraga jogging menjadi hobi beliau saat ini.


Buku setebal 208 halaman dan identik dengan warna kuning ini dapat Anda miliki di toko buku di kota Anda. Sekalian saja jika Anda berminat mengikuti program young on Top yang beliau dirikan beberapa tahun lalu, kunjungi situsnya di www.youngontop.com. Selamat membaca