Kami berhenti di sebuah pom bensin yang berdiri di perempatan jalan. Andika yang sedari tadi berkeluh kesah karena bahan bakar motornya yang hampir habis, langsung memasuki area pom bensin menuju salah seorang petugas pengisi bensin. Sementara itu, kami yang bersepuluh berdiri disisi sudut area pom bensin menunggu dengan sabar.
“Masih lama Rif desanya?” Tanya Widya dengan tangan yang sedang mengkondisikan tas punggunya yang tampak berat sehingga kedodoran.
“Sabar, sebentar lagi kita sampai. Tinggal empat kilo lagi ke utara.” Jawab Arif untuk menangkan Widya yang juga tampak kelelahan karena kelamaan duduk di motor.
Kami dalam perjalanan menuju sebuah desa yang terletak di kaki Gunung Merapi. Hanya Arif, Bayu, dan Andika yang beberapa hari lalu sudah mencari letak desa ini. Namanya desa Talun. Desa dimana kami akan melakukan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Sejak letusan Gunung Merapi tahun 2010 banyak desa-desa di kaki Gunung Merapi lulu lantak diterjang awan panas yang meluncur dari puncak gunung. Warga di kaki gunung sering menyebutnya Wedus Gembel. Selain menghancurkan desa, peristiwa ini juga merenggut nyawa beberapa warga yang masih tinggal dirumah saat luncuran awan panas mengalir dari atas gunung ke pemukiman warga. Peristiwa ini juga mengakhiri hidup seorang juru kunci merapi yang setia, Mbah Marijan.
Kami membayangkan desa yang akan kami tempati nanti adalah desa yang ikut terkena dampak awan panas letusan Gunung Merapi. Banyak rumah-rumah yang hancur berantakan dan pohon-pohon yang tampak sekarat sehingga tampak batang dan ranting-ranting saja tanpa dedaunan.
Kami tergabung dalam unit Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari kampus. Dampak merapi yang belum pulih total memerlukan uluran tangan total dari segala elemen, termasuk kampus kami. KKN yang kami ikuti saat ini memiliki misi untuk mengembalikan perekonomian desa terdampak dan melakukan pendampingan kepada warga desa yang menjadi korban. KKN kali ini bernama KKN Peduli Merapi.
Kami melanjutkan perjalanan menuju utara atau lebih tepatnya menuju arah Gunung Merapi yang berdiri kokoh di bumi Indonesia. Kiri dan kanan jalan tampak pemandangan hamparan sawah yang cukup luas dan beberapa blok tanah yang ditanami dengan tembakau. Tampaknya daerah ini tidak tekena dampak letusan secara langsung. Meskipun begitu daerah ini juga terkena dampak perekonomian karena sayuran yang tumbuh dikaki gunung habis terpanggang oleh abu vulkanik gunung.
Kami mengikuti Arif yang berada di paling depan rombongan. Baru satu minggu yang lalu aku mengenal Arif dalam pertemuan unit. Dari semua laki-laki di unit kami, Arif yang paling pendek. Sebenarnya tidak hanya Arif, Selly memiliki tinggi yang sama dengan Arif. Walaupun begitu mereka berdua berbeda jenis kelamin. Arif tampak lucu mengendarai motor Suzuki Satria F yang memboncengi Oo yang tampak lebih tinggi darinya.
Dalam pertemuan unit, masing-masing kami saling mengenalkan diri masing-masing. Kelompok kami berjumlah sebelas orang, terdiri dari 6 orang laki-laki dan lima orang perempuan. Kelompok KKN kali ini lebih banyak dari yang biasanya hanya delapan orang.
Dalam pertemuan itu juga kami memilih ketua unit. Dalam sebuah kelompok harus memiliki ketua yang mengatur dan menjadi mandataris sebuah kelompok. Bahkan ketua kelompok juga bisa menjadi benteng atas kesalahan anak buahnya. Ketua kelompok kami bernama Andika. Laki-laki berperawakan sedang dan berkulit putih dengan bahasa Jawa yang medok kami pilih secara demokrasi. Andika juga memenuhi kriteria yang sangat diperlukan untuk mengahadapi warga desa yang kesehariannya berbahasa Jawa. Kriteria komunikasi yang baik dengan menggunakan bahasa jawa yang halus.
Kami melewati jalan aspal yang mulai terkelupas hingga tampak bongkahan batu yang membuat orang melintasinya harus berhati-hati. Daerah ini berbeda dengan daerah yang kami lalui sebelumnya yang tampak terang dengan hamparan sawah yang menyejukkan mata. Saat ini kami melewati daerah yang ditumbuhi oleh bambu-bambu yang menjulur keatas. Kami tetap melewati jalan yang berlubang ini hingga beberapa ratus meter kemudian.
Aku teringat dengan kejadian yang menimpaku saat melewati serumpun bamboo yang berdiri disamping jalan dekat rumahku. Saat itu aku sedang berjalan berdua dengan seorang teman. Tiba-tiba saja bulu kudukku berdiri sehingga secepat kilat aku berlari sekencang-kencangnya meninggalkan temanku dibelakang.
Di depan ku tampak Lina dan Widya yang berboncengan terlihat kesulitan melewati jalan ini. Sesekali ban sepeda motor yang dikendarai Lina masuk ke beberapa lubang jalan hingga hampir terjatuh.
“Dik, masih jauh ya balai desanya?” Tanya Lina yang tidak sabar untuk segera sampai di tujuan akhir kami, Balai Desa Talun.
“lima menit lagi kita sampai. Kelompok lain sudah berangkat Mas Yan.” Tanya Dika kepadaku.
“Kayaknya sudah beberapa kelompok Dik yang datang.” Jawabku.
Ada lima unit kelompok KKN yang ditempatkan di desa Talun. Mereka adalah unit KKN 20 sampai dengan Unit KKN 25. Aku dan kesepuluh rekan kelompokku tergabung dalam kelompok KKN Unit 23. Penempatan lima kelompok dalam satu desa menandakan bahwa desa ini cukup luas.
Beberapa menit kemudian kami tiba di balai desa. Dari dalam bangunan sederhana itu terdengar suara pembawa acara yang tengah mengkondisikan warga agar duduk di kursi yang sudah disiapkan. Kami memasuki ruangan dan duduk di bangku yang sudah disiapkan sedemikan rupa untuk kami. Penduduk disini sangat ramah dalam menyambut tamu. Tampak sekali raut wajah ceria saat acara peresmian KKN berlangsung. Acara ini berlangsung dengan hikmat dengan dibukanya kegiatan KKN di desa talun oleh Pak X dan dihadiri oleh beberapa perangkat desa dan ketua Pemuda setempat.


