Sebuah gulungan tikar berdiri di pojokan ruang tamu. Lina membawa tikar dari kontrakannya untuk alas tidur kami. Rumah ini tidak memiliki kasur yang bisa kami gunakan untuk tidur. Jadi kami akali dengan membawa tikar dan bantal seadanya yang kami pinjam semua ke Lina. Butuh waktu dan kerja keras untuk merayu Lina supaya membawa semua perabotan tidurnya untuk kami pakai. Begitulah kami para mahasiswa yang masih ngekos, sementara lina memiliki rumah sendiri dengan perabotan yang lengkap.
Arman mengambil tikar tersebut dan membentangkannya bersama Bayu hingga menutupi separuh dari ruang tamu rumah ini. Sebentar lagi ruangan ini akan ramai dengan kami berkumpul. Malam ini kami akan mengadakan rapat untuk membuat schedule program yang akan kami lakukan di desa ini.
Dari kejauhan aku memandang sebuah kamar yang tertutup sangat rapat. Aku masih teringat dengan kata Pak Ponijam yang mengantarkan kami ke rumah ini. “Mas, Mbak, kamar ini jangan dipakai ya. Biarkan saja ketutup” begitulah kata Pak Ponijam saudara dari pemilik rumah ini yang diamanahkan untuk menjaga rumah. Pak ponijam juga menuturkan bahwa pemilik rumah sedang pergi ke Lampung untuk menjenguk anaknya. Dia pegi sejak tiga bulan yang lalu dan belum tahu kapan pulangnya.
Aku sangat penasaran apa isi dibalik kamar ini. Pikiran ku mulai tidak karuan. Imajinasikupun melayang membayangkan kamar yang dihuni oleh makhluk kasat mata. Pikiran ku menggambarkan tentang sebuah kamar yang tidak boleh dimasuki oleh siapapun karena ruang tersebut adalah sebuah tempat dimana makhluk-makhluk gaib berada. Mereka akan mengganggu setiap manusia yang menempati rumah tersebut. Hanya ada dua pilihan bagi sang penghuni rumah yaitu pindah dari rumah tersebut atau mati dengan penyebab yang ganjil. Begitulah beberapa film horor yang pernah aku tonton.
Aku sendiri tidak menyukai film horor. Pernah suatu hari temanku mengajak nonton film disebuah bioskop, namanya ihsan. Karena gengsi aku iyakan saja ajakan ihsan. Kami nonton berlima. Aku duduk disamping ihsan sementara dua orang lainnya berada di samping ku dan satu orang berada disamping ihsan. Sampai dengan adegan saat hantu itu mulai mau keluar diiingi dengan suara khas sebuah film horor aku mulai menutup mataku dengan kedua tangan. Bagitu seterusnya disetiap adegan yang sama. Aku hanya menikmati film itu saat adegan dialog dan itu saat siang hari.
Aku melirik jam tangan yang dipakai Andika yang berada di samping ku. Waktu menunjukkan jam setangah tujuh. Rombongan cewek yang sedang uring-uringan di ruangan tepat di depan kamar tertutup itu bergegas ke ruang tamu. Kami akan memulai rapat kecil ini.
Rapat berlangsung lima belas menit. Hanya pembahasan ringan seputar jadwal masing-masing dari kami yang akan melaksanakan program KKN yang sudah dibuat. Rpat juga membahas mengenai program yang bisa dikolaborasi sehingga kami bisa melaksanakan secara bersama dalam satu tempat dan satu waktu.
“Mas Yan, O o, sama Mas Bayu, jam 7.30 ke rumah Mas Pur ya. Dirumahnya ada acara tiga harian orangtuanya yang meninggal kemarin.” Kata Andika memberitahu.
“Oo, orang tuanya ya yang meninggal kemarin!” kata O o.
“Siap pak Bos.” Jawab Bayu bersemangat.
**
Bendera putih tergantung di ujung sebuah bambu yang memancang di atas tanah. Bambu ini berdiri tegak tepat disamping sebuah jalan setapak disamping pos ronda depan sebuah rumah. Ada seseorang yang meninggal hari ini.
“Pak ada yang meninggal ya?” Selly mencoba bertanya kepada Pak Ponijam.
“Iya Mbak, orangtuanya Mas Mul meninggal dunia karena sakit tua. Umurnya sudah 66 tahun.” Jawab Pak Ponijam dengan ramah.
Kami berdiri di samping sebuah pos kamling yang terlihat tidak terawat. Pos kamling itu kotor dan berdebu menandakan lamanya warga tidak memakai pos kamling ini. Dibelakang pos kamling, berdiri sebuah rumah yang tertutup rapat dengan pekarangan yang cukup luas. Rumah Mas Mol tepat beberapa meter di belakang rumah ini.
“Mas, Mbak, ini rumahnya yang akan ditempati nanti.”
Mendengar Pak Ponijam mangatakan rumah tertutup itu adalah rumah yang akan kami tempati sebagai posko sontak Dwisti kaget. Dwisti menampakkan mukanya yang ketakutan karena rumah ini bersebelahan rumah dengan yang baru meninggal. “Beneran ini Pak posko kami nanti?”,tanya Dwisti yang meragukan perkataan Pak Ponijam. Didalam hati Dwisti mengharapkan kalau Pak Ponijam hanya bercanda saja. “Iya Bener Mbak” Jawab Pak Ponijam menekankan.
Berbeda dengan Dwisti, kami tidak merasakan ketakutan sedikitpun melihat rumah itu. Kami bersyukur mendapatkan rumah dengan pekarangan yang luas dan ada garasi untuk mengamankan kendaraan yang kami bawa. Kami juga sempat berpikir untuk membawa mobil milik Lina. Tapi Bayu mengingatkan jika kami membawa mobil, kami terkesan sebagai anak gedongan sehingga ditakutkan warg akan meminta yang macam-macam. Ini adalah pikiran negatif kami yang banyak mendengar berita dari orang-orang yang sudah pernah melakukan Kuliah kerja Nyata. Sementara kami adalah anak-anak perantauan yang menghabiskan duit orang tua untuk belajar.
Pak Ponijam hanya mengantarkan kami sampai depan rumah. Setelah memberikan kunci rumah, dia langsung berpamitan karena harus menyelesaikan pekerjaannya di kebun. Kami memasuki rumah itu, rumah yang akan menjadi posko kami nantinanti, rumah yang mengawali cerita kami.